Bolivian Southwest: Reserva Eduardo Avaroa

9 Dec

Bolivian Southwest: Reserva Eduardo Avaroa.

Aside 9 Dec

MAKALAH FILSFAT ILMU

ILMU DAN KEBUDAYAAN , PEREKMBANGAN ILM DAN KEBUDAYAAN

PENDAHULUAN

            Ilmu pengetahuan merupakan salah satu hal yang penting yang harus dimiliki dalam kehidupan manusia. Hal ini menjadi ciri manusia karena mansuia senantiasa bereksistensi, tidak hanya berada seperti batu atau rumput ditengah lapangan, tetapi ,manusia selalu bereksistensi. Oleh karena itu manusia berbudaya , mengembangkan ilmu pengetahuan dan menggunakannnya untuk kehidupan pribadi dan lingkungannya. Ilmu pengetahuan merupakan teorisasi dari sejumlah pengetahuan yang diperoleh dan dimiliki manusia melalui sejumlah penelitian dan pembuktian. Dengan kata lain ilmu pengetahuan menuntut suatu tindakan yang ilmiah terhadap suatu kebenaran. Sedangkan menurut Amsal bakhtiar (2007:87) dalam (Sutanto, 2011) :183). Ilmu pada prinsifnya merupakan suatu untuk mengorganisasikan dan pengamatan sehari-hari. Kemudian dilanjutkan dengan pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan metode. Untuk melakukan usaha-usaha tersebut manusia mempnyai intellectual activity. Menurut Soetriono (2007 : 120)  dalam (Sutanto, 2011) : 184) intellectual activity adalah upaya manusia untuk mempelajari dan mengamati fenomena-fenomena yang dihadapi sampai apda akarnya dan pencarian serta pengembangan ilmu. Maka dalam makalah ini akan dibahas bagaimana ilmu dan kebudayaan itu dalam kehidupan manusia.

RUMUSAN MASALAH

            Rumusan masalah dalam malakah ini adalah

  1. Apa yang dimaksud dengan ilmu dan kebudayaan?
  2. Apa dan Bagaimana peranan ilmu dalam perkembangan kebudayaan ?

PEMBAHASAN

Ilmu dan Kebudayaan

Menurut bahasa Yunani  , aksiologi berasal dari perkataan axios yang berarti nilai dan logos berarti teori (ilmu), Jadi aksiologi teori tentang nilai.  Menurut John Sinclair  , aksiologi adalah nilai sebuah ilmu yang merujuk pada pemikiran atau suatu sistem politik, sosial, dan agama yang dirancang bagaimana tatanan , rancangan, dan aturan sebagai bentuk pengendalian terhadap satu institusi dapat terwujud (Endraswara, 2012) : 146).

Ilmu adalah istilah yang berasal dari kata Yunani, yaitu scientia yang berarti ilmu. Atau dalam kaidah bahasa Arab berasal dari kata “ilm yang berarti pengetahuan. Ilmu atau sains adalah pengkajian sejmlah pernyataan-pernyataan yang terbukti dengan fakta-fakta empiris , disusun secara sistematis dan terbentuk menjadi hukum (kaidah)  umum yang dapat diterima oleh semua pihak. (Endraswara, 2012) : 158).  Hal yang mendasari suatu ilmu adalah metode ilmiah . Ilmu dalam pengertian teori dapat saja berubah , tetapi ada yang tidak berubah dari llmu dan Bahm dalam (Endraswara, 2012) : 164 mengatakan bahwa itu adalah  metode ilmiah. Metode ilmiah itu satu sekaligus banyak, karena dapat ditereapkan dalam smua objek material.  Langkah metode ilmiah adalah kesadaran akan masalah, pengujian masalh, menawarkan solusi-solusi, menguji tawaran-tawaran itu, memecahkan masalah.

Ungkapan Aristoteles tentang ilmu “ umat manusia menjamin urusannya untuk hidup sehari-hari, barulah ia arahkan perhatiannya kepada ilmu pengetahuan (van Melsen, 1987) dalam (Surajiyo, 2011): 137) .  Pada masa ini ilmu tidak begitu penting dan tidak berguna dengan kata lain , bahwa manusia lebih menomorsatukan urusan makan dan kehidupan di bandingkan ilmu pengetahuan. Manusia dalam dalam interaksi sosial kemasyrakatan lebih banyak menggunakan bahasa fisik dibandingkan dengan bahasa akal. Alangkah  ironinya arti penting sebuah ilmu pengetahuan.  Ilmu pada dewasa ini mengalami fungsi yang berubah secara radikal , dari tidak berguna sama sekali dalam kehidupan praktis menjadi tempat bergantung kehidupan manusia. Penemuan-penemuan secara empiris memberikan kemungkinan baru, yang ternyata ada gunanya dalam praktik  ilmu yang semula rasional-empiris menjadi rasional eksprimental.

Ilmu merupakan suatu cara berpikir dalam menghasilkan  suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan. Ilmu merupakan produk dari proses berpikir ilmiah dengan langkah-langkah metode limiah. Berpikir ilmiah  merupakan kegiatan proses berpikir yang memenuhi langkah-langkah ilmiah. Langkah ilmiah mempunyai kriteria utama yaitu , berpikir ilmiah harus mempunyai alur jalan pikiran yang logis, ernyataan yang bersifat logis harus di dukung  oleh fakta empiris.  Ilmu juga merupakan kegiatan berpikir untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, atau secara lebih sederhana. Ilmu bertujuan untuk mendapatkan kebenaran dengan kriteria karakteristik  berpikir yang bersifat otonom dan terbebas dari struktur kekuaaan di luar bidang keilmuan dan karakteristik moral yang meninggikan kebenaran dan pengabdian secara universal.

Ilmu merupakan bagian dari kebudayaan dan pengetahuan merupakan unsur kebudayaan. . Kebudayaan berasal dari kata sansekerta  buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal (Surajiyo, 2011) : 137). Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal.  Ilmu dan kebudayaan berada pada posisi yang saling tergantung dan saling mempengaruhi. Di satu pihak bahwa pengembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung dari kondisi kebudayaannya tetapi di pihak lain pengembangan ilmu juga akan mempengaruhi jalannya perkembangan kebudayaan.  . Kebudayaan didefinisikan untuk pertamakali oleh E.B. Taylor pada tahun 1871 dalam bukunya Primitiv culture dimana Kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kebudyaaan, seni, moral, hukum, adat serta kemapuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. (Suriasumantri, 1990). Beberapa ahli budayawan Indonesia seperti, Ki Hajar Dewantara, Sutan Takdir Alisyahbana, Koentjaraningrat, A.I. Kroeber dan C. Kluckhohn dan Malinowski. berpendapat tentang kebudayaan.  Salah salah satu pendapat dari beberapa budayawan yaitu, Koentjaraningrat adalah kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik mansuia dengan belajar. (Koentjaraningrat, 1986) dalam (Surajiyo, 2011):138). Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Lain halnya menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan (Edward Burnett Tylor) kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, (Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi), sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. (Wikipedia, 2012)

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak, berwujud benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Ilmu sebagai suatu cara berpikir

            Ilmu merupakan suatu cara berpikir dalam menghasilkan satu kesimpulan berupa pengetahuan yang diandalkan. Ilmu yang diperoleh dari proses berpikir menurut langkah-langkah tertentu disebut berpikir ilmiah.  Langkah-langkahnya berpikir ilmiah yaitu, harus mempunyai alur jalan pikiran yang konsisten dengan pengetahuan ilmiah yang telah ada dan harus menerima pernyataan yang didukung oleh fakta sebagai pernyataan yang teruji kebenaranya untuk memperkaya khasanah pengetahuan ilmiah yang disusun secara sistematik dan kumulatif. Beberapa Karakteristik berpikir ilmiah adalah 1) ilmu mempercayai rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. 2) alut jalan pikiran yang logis dan konsisten dengan pengetahuan yang telah ada. 3)pengujian secara empiris sebagai keriteria kebenaran objektif. 4) mekanisme yang terbuka terhadap koreksi. 5) bersifat rasional, logis, objektif dan terbuka (Suriasumantri, 1990) : 273-274)

Ilmu Sebagai Asas Moral

            Ilmu bertujuan mendapatkan kebenaran dengan karakterisitik kebenaran bersifat otonom dan terbebas dari struktur kekuasaan di luat bidang keilmuan. . Selain dari itu kebenaran bagi kaum ilmuwan yakni meninggikan kebenaran dan pengabdian yang universal untuk meninggikan martabat kemanusiannya. Ilmuwan tidak mengabdi pada golongan, kelompok politik, ras, ideologi dan faktor-faktor pembatas lainnya.

Perkembangan Ilmu dan Kebudayaan

Pengetahuan telah berkembang sejak adanya manusia. Tetapi pengorganisasian ilmu oleh bangsa Yunani dengan pendekatan silogistik merintis perkembangan ilmu secara sistematis, sekurang-kurangnya, sebelum masa Renaissance yang ditandai oleh Galileo Galilei dengan teropong bintangnya. Sampai dengan saat ini, logika deduktif mengembangkan teori-teori yang terlepas dari pengalaman empirik. Bahkan Aristoteles pun tak terhindar dari kesalahan ketika ia menyatakan beberapa perkiraan yang mengandalkan logika belaka, dan kemudian ternyata salah.

Francis Bacon pada permulaan abad XVII mempelopori penggunaan metode induktif karena menurutnya alam jauh lebih misterius dibandingkan kepelikan argumen. Galileo, Lavoiser dan Darwin menggunakan bukti-bukti empirik sekadar untuk menguji kebenaran hipotesis mereka. Tetapi pengumpulan keterangan yang cukup mengenai sesuatu tanpa hipotesis terlebih dulu sekadar untuk mempertahankan kesempurnaan obyektivitas sungguh tidak efisien maupun efektif. Tanpa hipotesis sebelumnya, seorang peneliti akan cenderung tidak selektif dalam mengumpulkan data. Perumusan masalah dan kejelasan formulasinya akan membuahkan hipotesis yang membuat langkah pengumpulan data dan eksplorasinya tepat guna. Tetapi metode induktif pun tidak memuaskan pada tingkat kemajuan ilmu sebagaimana diragukan oleh Albert Einstein. Menurut dia, tak ada metode induktif yang mampu menuju pada konsep fundamental dari ilmu alam.

Dengan menggabungkan metode deduktif Aristoteles dan metode induktif Bacon, Charles Darwin dapat dipandang sebagai pelopor metode keilmuan modern. Metode deduktif dan induktif yang digunakan secara komplementer dalam langkah-langkah pencarian kebenaran ilmiah telah menjadi pilihan cerdas untuk pengembangan ilmu ynag kini semakin pesat kemajuannya. Ilmuwan modern pada umumnya menggunakan metode induktif untuk mengembangkan hipotesis dari pengalaman. Dalam kajiannya, ia memanfaatkan pengetahuan yang telah ada untuk menguji hipotesisnya. Fakta dan teori dijadikan alat konfirmasi terhadap hipotesis sehingga ia memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang masalah yang dihadapinya. Pendekatan ganda ini menjadikan kegiatan keilmuan bersifat efisien dan efektif, sesuai peribahasa “Virtus stat in medio” (Kebijaksanaan berdiri di tengah-tengah).

George J. Mouly membagi perkembangan ilmu pada tahap animisme, ilmu empiris dan ilmu teoritis. Pembagiannya ini mengingatkan kita pada tahap perkembangan kebudayaan yang dikemukakan oleh van Peursen: tahap mistis, tahap ontologis, tahap fungsional. Pada tahap animisme, manusia menjelaskan gejala yang ditemuinya dalam kehidupan sebagai perbuatan dewa-dewi, hantu dan berbagai makhluk halus. Pandangan mistis itu hingga kini masih berlangsung juga, bahkan di negara-negara yang peradabannya telah sangat maju.

Observasi sistematis dan kritis yang kemudian dilakukan telah mengembangkan pengetahuan manusia ke tahap ilmu empiris. Manusia mulai mengambil jarak dari obyek di sekitarnya dan mulai menelaah obyek-obyek itu. Langkah paling penting yang menandai permulaan ilmu sebagai suatu pendekatan sistematis dalam pemecahan masalah terjadi pada tahap ini, yakni ketika manusia menyadari bahwa gejala alam dapat diterangkan melalui telaah sebab-musabab alamiah.

Penemuan yang semula terpisah-pisah mulai diintegrasikan ke dalam suatu struktur yang utuh dengan menguji hipotesis-hipotesis dalam kondisi yang terkontrol. Proses ini oleh Mouly dibagi menjadi dua tahap perkembangan yang saling bertautan:

1)      Tingkat empiris: ilmu terdiri dari hubungan empiris yang ditemukan dalam berbagai gejala dalam bentuk pernyataan serupa “X menyebabkan Y” tanpa mengetahui alasan mengapa hal itu terjadi

2)      Tingkat teoritis: penjelasan yang mengembangkan suatu struktur teoritis yang bukan hanya menerangkan hubungan empiris yang terpisah-pisah, tetapi juga mulai mengintegrasikannya menjadi suatu pola yang berarti.

Titik tolak ilmu adalah pengalaman. Ilmu mulai dengan suatu observasi dan menggabungkannya dengan observasi-observasi lain sehingga diperoleh suatu kesamaan atau perbedaan untuk menyusun prinsip-prinsip dasar yang dapat digunakan untuk menerangkan terjadi atau tidak terjadinya serangkaian pengalaman. Jumlah dan ragam pengalaman yang terpisah-pisah itu harus direduksi sedemikian rupa hingga menjadi prinsip-prinsip dasar yang kokoh untuk menyatukan semua pengalaman yang bersifat lebih umum dan dapat diterapkan secara lebih luas.

Maka, prosedur yang paling dasar untuk mengubah data terpisah menjadi dasar yang fungsional adalah klasifikasi. Dengan mengetahui kelas suatu gejala lewat identifikasi sifat-sifatnya yang spesifik menurut tujuan penelitian, kemungkinan terjadinya penumpukan koleksi data tanpa makna dapat diminimalisasi. Tetapi observasi kualitatif saja kurang memadai. Kuantifikasi dapat memberikan ketelitian yang diperlukan bagi klasifikasi yang matang. Melalui klasifikasi yang demikian itu dapat diketahui adanya hubungan fungsional tertentu antara aspek-aspek komponennya. Hubungan fungsional antara berbagai gejala dapat diobservasi antara lain lewat klasifikasi maupun urutan kejadian. Namun pencarian hubungan-hubungan itu perlu dilaksanakan secara teliti karena adanya faktor kebetulan. Maka analisis terhadap suatu hal atau peristiwa harus memperhatikan unsur-unsur fundamental untuk menentukan secara lebih jelas hubungan-hubungan dari berbagai aspek. Dengan cara itulah diperoleh perkiraan kebenaran yang cukup untuk mendukung tujuan penelitian.

Tingkat yang paling akhir dari ilmu adalah ilmu teoritis yang menerangkan hubungan dan gejala yang ditemukan dalam ilmu empiris dengan dasar suatu kerangka pemikiran tentang sebab-musabab sebagai langkah untuk meramalkan dan menentukan cara untuk mengontrol kegiatan agar hasil yang diharapkan dapat dicapai. Kelebihan ilmu teoritis dibandingkan ilmu empiris dapat dilihat dengan memperhatikan keterbatasan ilmu empiris yang canggung, tidak mudah diterapkan karena obyek/ subyek penelitian merupakan gejala yang terpisah-pisah. Ilmu empiris sangat terbatas terutama dalam peramalan dan kontrol yang merupakan tujuan terakhir dari ilmu. Ilmu teoritis dapat memperpendek proses untuk sampai pada pemecahan masalah. Kelebihan ilmu teoritis nyata dalam merangsang penelitian dan dalam memberikan hipotesis yang berharga sebagaimana terdapat pada ilmu fisika. Bom atom tidak dibuat secara empiris kemudian diterangkan, melainkan sebaliknya. Einstein dan para sejawatnya lebih dulu mengembangkannya secara teoritis dan mengujinya secara empiris sekadar untuk meminimalisasi kekurangan dalam pengoperasiannya.

Peralihan dari ilmu empiris ke ilmu teoritis adalah langkah yang sukar. Menemukan jawaban tentang apa yang terjadi relatif lebih mudah dibandingkan harus menjawab mengapa hal itu terjadi. Hingga kini ilmu empiris gagal menyusun kerangka teoritis yang merupakan sintesis dari serangkaian penemuan empiris (khususnya di bidang/ kajian ilmu sosial). Hal itu terjadi karena ilmu-ilmu sosial terlalu menitikberatkan aspek empiris dan melalaikan aspek teoritis. Padahal empirisme merupakan tahap keilmuan yang belum lengkap dan memerlukan orientasi yang lebih besar terhadap teori.

Hampir seluruh ilmu pendidikan merupakan ilmu empiris. Namun kenyataannya kita masih harus menemukan lebih banyak lagi hubungan empiris yang terdapat dalam kelas. Pada ilmu-ilmu sosial masih sulit ditemukan penjelasan secara keilmuan untuk sebagian besar masalah dari hal-hal yang paling elementer apa yang yang terjadi ketika seorang anak belajar. Dalam psikologi, misalnya, telah dikembangkan berbagai teori yang menerangkan sejumlah gejala psikologis, namun tak satu pun dari teori-teori itu yang dapat diterima oleh semua orang dan tak seorang pun mampu memberikan keterangan mengenai seluruh aspek kelakuan manusia.

Tidak demikian dengan ilmu-ilmu alam yang tampak lebih maju. Kendati tak satu pun dari ilmu-ilmu itu memiliki kesamaan pendapat dalam keseluruhan aspeknya, tetapi dalam fisika, misalnya, gejala cahaya dapat dijelaskan dengan dua buah teori yang bertentangan: teori gelombang dan teori partikel. Peranan ilmu yaitu

  1. Ilmu merupakan bagian dari kebudayaan.
  2. Ilmu merupakan salah satu cara menemukan kebenaran
  3. Asumsi dasar dari semua kegiatan dalam menemukan kebenaran adalah rasa percaya dengan metode yang dipergunakan dalam kegiatan tersebut.
  4. Pendidikan keilmuan harus sekaligus dikaitkan dengn pendidikan moral. Makin pandai seseorang dalam bidang keilmuan maka makin luhur landasan moralnya.
  5. Pegembangan bidang keilmuan harus disertai dengan pengembangan dalam bidang filsafat terutama menyangkut keilmuan. Pengembangan yang seimbang antara ilmu dan filsafat akan bersifat saling menunjang dan saling mengontrol terutama terhadap landasan epistimollgi dan aksiologi.
  6. Kegiatan ilmiah haruslah bersifat otonom yang terbebas dari struktur kekuasaan dan pengendalian kegiatan keilmuan.

Kebudayaan selalu mengalami perkembangan layaknya ilmu pengetahuan .  Pengembangan kebudayaan  pada hakikatnya  adalah perubahan dari kebudayaan yang sekarang  bersifat konvesional kearah situasi kebudayaan yang lebih mencerminkan aspirasi dan tujuan kebudayaan itu sendiri.  Pengembangan kebudayaan bisa juga merupakan penafsiran kembali dari nilai-nilai konvensional agar lebih sesuai dengan tuntuan zaman serta pertumbuhan nilai-nilai baru yang fungsional. Proses pengembangannya dibutuhkan sifat kritis, rasional, lgis, objektif, terbuka, menjunjung tinggi kebenaran dan pengabdian universal.    Perkembangan kebudayaan dapat dilihat dalam skema proses modernisasi kebudayaan. Alport, Vernon dan Lindsey (1951) dalam (Suriasumantri, 1990) : 263) mengidentifikasikan enam nilai dasar kebudayaan yakni :

  1. Nilai Teori adalah  hakikat penemuan kebenaran lewat berbagai metode seperti rasionalisme, empirisme dan metode ilmiah
  2. Nilai Ekonomi mencakup kegunaan dari benda dalam memenuhi kebutuhan manusia.
  3. Nilai Estetika berhubungan dengan  keindahan dan segi-segi artistik yang menyangkut antara lain bentuk, harmoni dan wujud kesenian lainnya yang memberi kenikmatan kepada manusia.
  4. Nilai Sosial berorientasi hubungan antar manusia dan penekanan segi-segi kemanusiaan yang luhur.
  5. Nilai Politik  berpusat kepada kekuasaan dan pengaruh baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia politik.
  6. Masyarakat tradisional

    Proses Modernisasi

    Nilai Teori

    Nilai Sosial

    Mistik sistemik

    Pengalaman persaan instuisi

    Analisis

    Rasional

    Ilmiah

    Peralatan primitif

    kebiasaan

    Teknologi

    Efisiensi

    pengalaman

    generalis

    status

    kekerabatan

    pendidikan

    Keahlian

    Prestasi

    individu

    Nilai Ekonomi

    Nilai Kuasa

    Nilai Agama

    Insentif non-ekonomis

    Kerja untuk subsistensi

    Pola konsumsi konsumtif

    Insentif ekonomi

    Kerja keras

    Pola konsumsi produktif

    Keputusan seiring diambil orang lain

    Orientasi pada stabilitas

    Menolak perubahan

    Keputusan diambil sendiri

    Oreintasi pada kemajuan

    Menerima perubahan

    Fatalisme

    Aktif memperbaiki nasib

    Nilai Agama

    Nilai Kuasa

    Nilai Ekonomi

    Nilai Sosial

    Nilai Teori

    Masyarakat modern

    Nilai Agama merengkuh penghayatan yang bersifat mistik dan transedental dalam usaha manusia untuk mengerti dan memberi arti bagi kehadirannya dimuka bumi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan Arkeologi (ilmu yang mempelajari peninggalan purbakala dari manusia pra sejarah), perkembangan budaya manusia Indonesia dapat di golongkan menjadi beberapa periode yaitu periode jaman batu (batu tua, batu tengah, batu muda, dan jaman logam perunggu). 

Unsur-unsur Kebudayaan

  1. Sistem religi dan upacara keagamaan merupaka produk homo relegius
  2. Sistem organisasi kemasyarakatan merupaka produk homo socius
  3. Sistem pengetahuan merupakan produk homo sapiens
  4. Sistem pencaharian hidup merupakan produk homo economicus
  5. Sitem teknologi dan peralatan merupaka produk homo faber
  6. Bahasa merupakan produk homo longuens
  7. Kesenian merupaka produk homo esteticus

Aksiologi sebagai landasan Ilmu Pengetahuan

Menurut bahasa yunani , aksiologi berasal dari perkataan axios yang berarti nilai dan lgos berbati teori (ilmu) . Jadi aksiologi adalah reori tentang nilai.  Menurut John Sinclair dalam (Endraswara, 2012) : 146) dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sisitem seperti politik, sosial dan agama. Perkembangan Ilmu pengetahuan ditinjau secara ontologi. Ilmu pengetahuan ialah pengetahuan yang telah diolah kembali dan disusun secara metodis, sistematis, konsisten dan koheren. Jadi aksiologi sebagai landasan ilmu pengetahuan memberikan jawaban untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan. Bagaimna kaitan antara cara (etika) penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah nilai. Bagaimana penetuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan nilai. Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma nilai (tanngung jawab moral kemanusiaan).  Dengan demikian dasar aksiologi menyangkut nilai kegunaan ilmu secara transparan. Pada tahap-tahap tertentu ilmu harus disesuaikan dengan budaya dan moral suatu masyarakat sehingga nilaia kegunaan ilmu dpat dirasakan oleh mansyarakat sebagai usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Teori  nilai dalam filsafat adalah etika (Moral conduct) , estetika (estetic espression)  dan kehidupan sosial poitik (soiso-political life) (Endraswara, 2012): 148). Etika mengandung dua arti yaitu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan manusia dan suatu predikat yang dipakai untuk membeda-bedakan hal-hal, perbuatan manusia lainnya. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai pengalaman keindahan yang dimiliki oleh mansuia terhadap lingkungan dan fenomenda sekelilingnya. Untuk kehidupan sosial politik melahirkan filsafat sosial politik

Peranan keilmuan dan tanggung jawab moral seorang ilmuwan

            Ilmu bersifat mendukung pengembangan kebudayaan, sedangkan ilmu merupakan koleksi teori-teori yang bersifat akademik,yang sama sekali tidak fungsional dalam sendi kehidupan sehari-hari. Maka dalam peningkatan peranan keilmuan perlu langkah-langkah sitemik dan sistematik yaitu,

1)      Ilmu merupakan bagian dari kebudayaan dan oleh sebab itu langkah-langkah kearah peningkatan peranan dan kegiatan keilmuan harus memperhatikan situaasi kebudayaan masyarakat., diperlukan pendkatan edukatif dan persuasif , re-interpretasi dari nilai-nilai bertitik tolak argumentasi keilmuan.

2)      Ilmu merupakan salah satu cara dalam menemukan kebenaran. Dalam hal ini sering terjadinya gejala scientisme (Gerald Holton) suatu gejala kecanduan terhadap ilmu dengan kecenderungan untuk membagi semua pemikiran kepada dua golongan yakni ilmu dan omong kosong. Pendewaan teradap akal sebagai satu-satunya suber kebenaran.

3)      Asumsi dasar dari semua kegiatan dalam menenmukan  kebenaran adalah rasa percaya diri terhadap metode yang dipergunkan dalam kegiatan

4)      Pendidikan  keilmuan harus sekaligus dikaitkan dengan pendidikan moral.

5)      Pengembangan  bidang keilmuan harus disertai dengan pengembangan dalam bidang filsafat terutama menyangkut keilmuan.

6)      Kegiatan ilmiah haruslah bersifat otonom yang terbebas dari kekangan struktur kekuasaan

Untuk menyelesaikan krisis moral yang diakibatkan olrh ilmu pengetahuan dan teknologi, diperlukan seorang ilmuwan yang baik sehingga degala tindakan yang dilakukan akan selalau dipikirkan baik buruk dan  menurut etika moral. Seorang ilmuwan harus memiliki sikap ilmiah untuk menyelesaikan masalah tersebut antara lain : 1) seorang ilmuwan harus bersikap selektif terhadap segala informasi dan realita yang dihadapinya. 2) seorang ilmuwan  angat menghargai  terhadap alat indera serta budi, adanya sikap yang positif terhadap setiap pendapat atau teori terdahulu telah memberikan inspirasibagi terlaksananya penelitian dan pengamatan lebih lanjut, 3) seorang ilmwan memiliki rasa tidak puas terhadap penelitian yang telah dilakukannya sehingga mendorong untuk terus melakukan riset atau penelitian, 4) seorang ilmuwan harus memiliki akhlaq atau sikap etis yang selalu berkehendak untuk mengembangkan ilmu untuk kebahagiaan manusia lebih khususnya untuk pembangunan bangsa dan negara. Akhlaq dan sikap etis dalam mengembangkan ilmu untuk memiliki sopan santun ilmiah yaitu dengan berhati-hati dalam mengeluarkan pendapat, objektif, skeptif, kesabaran intelektual, kesederhanaan, tidak ada rasa pamrih, dan bersikap selektif.  Menurut Conny R. Semiawan (1991 : 117) dalam (Sutanto, 2011) : 197) tanggung jawab moral seorang ilmuwan merupakan refleksi dari kewajiban moral. Kewajiban yang mengikat batin seorang lepas dari pendapat masyarakat, teman, maupun atasan yang bukan berarti tanggung jawab moral secara absolut  tetapi lebih bersifat personal. Seorang ilmuwan harus peka terhadap konsekuensi-konsekuensi etis ilmunya terhadap perkembangan ilmu yang konkret.

KESIMPULAN

  1. Ilmu adalah rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh pemahaman secara rasional empiris mengenai dunia ini dalam berbagai seginya dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia.
  2. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
  3. Ilmu merupakan bagian dari kebudayaan dan oleh sebab itu langkah-langkah yang sistemik dan sistematik ke arah peningkatan peranan dan kegiatan keilmuan harus memperhatikan situasi kebudayaan (etika dan estetika) dalam  masyarakat kita karena antara ilmu dan kebudayaan memiliki kaitan yang erat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Endraswara, S. D. (2012). Filsafat Ilmu Konsep, Sejarah, dan Pengembangan Metode Ilmiah

            (1 ed., Vol. vii + 284 hal, 15 x 23 cm). (T. r. Caps, Penyunt.) Yogyakarta,

            Indonesia: Caps.

Surajiyo, D. (2011). Filsafat Ilmu dan perekmbangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Suriasumantri, J. S. (1990). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta, Jakarta, i: PT.

            Gelora Aksara Pratama.

Sutanto, A. D. (2011). Filsafat Ilmu Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistimologis,

            dan Aksiologis. Jakarta: Bumi Aksara.

Wikipedia. (2012). Kebudayaan. Jakarta: Ensiklopedia bebeas bahasa Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aside 9 Dec

MAKALAH

LANDASAN TEORI DAN PENDEKATAN SISTEM

 

 

Disusun Untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah

DASAR-DASAR TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Dosen Pengampu:

 

Prof. Dr. H. Fuad Abdur Rahman. M.Pd

Dr. L.R. Retno Susanti, M.Hum

 

Disusun Oleh:

EMI KALSUM

NIM. 06122503022

NIM. 20102813001

 

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2012

 

PENDAHULUAN

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara( Hasbullah, 2012 : 304-305)  .  Menurut Ki Hajar Dewantara (Surajiyo, 2012) menyebutkan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran dan tubuh anak guna memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan dan penghidupan anak-anak selaras dengan dunianya. Menurut  fungsi, Pendidikan Nasional merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan oleh institusi negara Indonesia, dalam rangka mewujudkan hak menentukan eksistensi nasional sebagai sebuah bangsa dalam bidang pendidikan  atau (right of self-determination on education). Menurut struktur, Pendidikan Nasional sebagai sistem adalah keseluruhan satuan kegiatan pendidikan yang direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam rangka menunjang ketercapaian tujuan nasional.

Ada banyak cabang ilmu pendidikan. Salah satunya adalah teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan merupakan salah satu cabang dari disiplin ilmu pendidikan yang berkembang seiring dengan perkembangan teknologi (Purwanto, 2007) . Pendidikan merupakan sebuah sistem yang terdiri dari banyak komponen yang saling berhubungan dan sangat kompleks namun memiliki tujuan besar yang sama yaitu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Penyelenggaraan sistem pendidikan memiliki perbedaan satu sama lain yang dipengaruhi oleh sistem sosial budaya yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat dan penyelenggaraan pendidikannya juga membutuhkan pengelolaan yang sistematis dan sistemik.  Pengelolaan  tersebut meliputi level instruksional (ruang kelas), level administratif (sekolah), level wilayah, level nasional hingga level global,  merupakan rangkaian proses yang kompleks namun memiliki tujuan yang sama yaitu mencapai tujuan pendidikan nasional dan hal ini merupakan perwujudan dari sebuah sistem yang berorientasi pada pemecahan masalah secara efektif dan efisien.  Maka dalam  makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai landasan teori dan pendekatan sistem dalam teknologi pendidikan.

Rumusan Masalah

  1. Apakah yang dimaksud dengan landasan teori sistem ?
  2. Bagaimana Pendekatan sistem dalam teknologi pendidikan ?
  3. Bagaimana penerapan  teori sistem teknologi Pendidikan?

Tujuan

Ò  Untuk mengetahui definisi dari landasan teori sistem

Ò  Untuk mengetahui Jenis-jenis Pendekatan sistem dalam teknologi pendidikan

Ò  Untuk mengetahui cara penerapan  teori sistem teknologi Pendidikan

PEMBAHASAN

Definisi Teori dan Landasan Teori

            Teori adalah pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data (Depdiknas, 2002) dan Selain itu, Snelbecker dalam (Miarso ; 2012: 104) juga mengemukakan bahwa secara sederhana teori dapat diartikan sebagai ringkasan pernyataan yang melukiskan dan menata sejumlah pengamatan empirik. Menurut Neumen dalam (Sugiyono, 2011) menyatakan teori adalah seperangkat konstruk ( konsep ), definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Menurut Cooper and Schindler dalam (Sugiyono, 2011) menyatakan teori adalah seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.  

            Landasan teori adalah Landasan yang  memuat teori-teori atau konsep-konsep dasar, yang diambil dari buku-buku acuan yang langsung berkaitan dengan bidang ilmu yang diteliti sebagai tuntunan, untuk memecahkan masalah penelitian dan untuk merumuskan hipotesis (Ardiansyah, 2006).

Macam-macam landasan teori (Miarso, 2012 ; 111 – 120)

  1. Landasan Teori dalam llmu Perilaku, Lumsdaine (1964,h.373)dalam Miarso (2012:111). Ilmu perilaku, khususnya teori belajar, merupakan ilmu yang utama untuk memperkembangkan teknologi pembelajaran. Bahkan Deterline berpendapat bahwa teknologi pembelajaran merupakan aplikasi teknologi perilaku, yaitu untuk menghasilkan perilaku tertentu secara sistematik guna keperluan pembelajaran. Landasan perilaku merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi pendidik tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Untuk kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh pendidik adalah tentang : (a) motif dan motivasi, berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan,– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–, menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. (b). Pembawaan dan Lingkungan, berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu.Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan, yang mencakup aspek psiko-fisik, pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. (c). Perkembangan Individu, berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya, diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial. (e). Kepribadian tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif. Menurut pendapat  Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2005), bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.
  2. Landasan Teori dalam llmu Komunikasi. Edgar Dale menyatakan bahwa teori komunikasi merupakan suatu metode yang paling berguna dalam usaha meningkatkan efektifitas bahan audiovisual (1953,h. 3) dalam (Miarso, 2012 : 115) . Hoban berpendapat bahwa pendekatan yang paling berguna untuk memahami dan meningkatkan efisiensi dibidang audiovisual adalah melalui konsep komunikasi (1956, h 9) dalam (Miarso, 2012 : 115) . Orientasi komunikasi ini menyebabkan lebih diperhatikannya proses komunikasi informasi secara menyeluruh Schramm berpendapat perlunya dilakukan penelitian terus menerus dalam kaitan antara media komunikasi dan pendidikan, yaitu suatu kawasan teknologi pendidikan. Hal ini juga menunjukkan bahwa teknologi pendidikan sebagai satuan pengetahuan yang terorganisasikan akan senantiasa berkembang dengan adanya penelitian.
  3. Landasan Teori dalam ilmu Sosiologi. Dalam ilmu sosiologi, manusia merupakan makhluk sosial, saling berinteraksi satu sama lain, sehingga jika dikaitkan dengan teknologi pendidikan,ilmu sosiologi menyatakan bahwa teknologi bukan hanya untuk masing-masing orang tetapi untuk semua orang. Pendidikan sebagai gejala sosial dalam kehidupan mempunyai landasan individual, sosial dan cultural. Pada skala mikro pendidikan bagi individu dan kelompok kecil berlangsung dalam skala relatif tebatas seperti antara sesama sahabat, antara seorang guru dengan satu atau sekelompok kecil siswanya, serta dalam keluarga antara suami dan isteri, antara orang tua dan anak serta anak lainnya.
  4. Landasan Teori dalam Ilmu Filsafat, Landasan filsafat pendidikan memberi perspektif filosofis dalam memandang menyikapi serta melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu maka ia harus dibentuk bukan hanya mempelajari tentang filsafat, sejarah dan teori pendidikan, psikologi, sosiologi, antropologi atau disiplin ilmu lainnya, akan tetapi dengan memadukan konsep-konsep, prinsip-prinsip serta pendekatan-pendekatannya kepada kerangka konseptual kependidikan. Landasan filosofis dalam pendidikan terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Hakikat manusia sebagai berikut : makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya, belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu dan akan menjadi apa manusia itu, pada setiap saat dan dalam suasana apapun, manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu.
  5. Landasan Teori dari Disiplin Lain. James Finn (1972), pada tahun 1957 telah mencanangkan perlunya diadakan ; Penilaian menyeluruh tentang watak teknologi yang baru serta implikasinya dalam bidang pendidikan, Pembaruan organisasi, prosedur dan isi pendidikan, yang akan menjembatani jurang yang terjadi karena meroketnya perkembangan teknologi dan perkembangan pendidikan , Aplikasi konsep dan proses yang berguna dari teknologi dalam usaha pendidikan sebagai usaha menutupi jurang perbedaan yang makin melebar (h. 109-110) dalam Miarso, 2012 : 119) .

Definisi Sistem

Sistem adalah jaringan kerja dari beberapa prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu. (Gunadarma, 2004). Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi.

           

Konsep Sistem Teknologi Pendidikan

Pengertian teknologi adalah proses yang meningkatkan nilai tambah. Dengan  menggunakan dan atau menghasilkan suatu produk tertentu, dimana produk yang digunakan dan atau dihasilkan tidak terpisah dari produk lain yang telah ada, dan menjadi bagian integral dari suatu sistem. Teknologi harus memenuhi ketiga syarat tersebut: proses, produk, dan sistem, kecuali membuktikan dirinya sebagai suatu bidang kajian atau disiplin keilmuan yang berdiri sendiri. Perkembangan sebagai disiplin keilmuan tersebut dilandasi oleh serangkaian dalil atau dasar yang dijadikan patokan pembenaran. Secara falsafah dasar keilmuan itu meliputi ontologi, atau rumusan tentang gejala pengamatan yang dibatasi pada suatu pokok telaah khusus yang tidak tergarap oleh bidang telaah lain; epistemologi, yaitu usaha yang ditentukan; dan aksiologi atau nilai-nilai yang menentukan kegunaan dari pokok telaah yang ditentukan, yang mempersoalkan nilai moral (etika) dan nilai serta keindahan atau estetika (Miarso, 1987) dalam Miarso ( 2012 : 149) Objek formal teknologi pendidikan adalah belajar pada manusia baik pribadi maupun yang tergabung dalam organisasi. Belajar itu tidak hanya berlangsung dalam lingkup persekolahan ataupun pelatihan. Belajar itu ada di mana saja dan oleh siapa saja, dengan cara dan sumber apa saja yang sesuai dengan kondisi dan keperluan. Objek tersebut dapat digambarkan sebagaimana tertera dalam gambar disamping (Miarso, 2012 : 151)

Semua bentuk teknologi adalah sistem yang diciptakan oleh manusia untuk sesuatu tujuan tertentu, yang pada intinya adalah mempermudah manusia dalam memperingan usahanya, meningkatkan hasilnya, dan menghemat tenaga serta sumber daya yang ada. Teknologi itu pada hakikatnya adalah bebas nilai, namun penggunaannyaakan sarat dengan aturan nilai dan estetika. Dalam perkembangan terakhir, istilah teknologi pendidikan dipersempit menjadi teknologi pembelajaran, dengan pertimbangan bahwa istilah terakhir itu kecuali lebih dapat diterima oleh kalangan yang luas, juga dapat lebih berfokus pada objek formal yang menjadi garapannya. Secara konseptual teknologi pendidikan didefinisikan: teori dan praktik dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian, dan penelitian proses, sumber, dan sistem untuk belaj ar. Definisi tersebut megandung pengertian adanya empat komponen dalam teknologi pembelajaran, yaitu:Teori dan praktik, Desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian, dan penelitian, Proses, sumber, dan sistem , untuk belajar (Miarso, 2012 : 168-169)

Mekanisme kerja sistem

Masukan – Proses – Hasil

”Masukan-Proses-Hasil”, adalah suatu model sistem dimana antara masukan dan hasil terdapat sebuah proses yang memiliki banyak komponen yang saling bekerjasama untuk mencapai tujuan yang sama. Sistem Pendidikan Nasional juga merupakan sebuah sistem yang kompleks, dimana sumber-sumber masukan dari masyarakat ke dalam sistem pendidikan nasional dapat berupa informasi, energi atau tenaga dan bahan-bahan. Hal ini dapat tergambar dari Sistem Pendidikan Nasional dalam Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 mengenai Standar Pendidikan Nasional di bawah ini.

 

INPUT

OUTPUT

TRANFOMATION OF PROCESS

PENGENDALIANNN

 

 

 

 

 

 
   

Terdapat dua jenis masukan dalam bentuk informasi, yaitu informasi produk dan informasi operasional. Informasi produk berupa kualitas dan kuantitas peserta didik. Kualitas peserta didik meliputi identitas, latar belakang keluarga (termasuk sosial ekonomi), kemampuan, minat, dan sebagainya. Kuantitas peserta didik menyangkut jumlah keseluruhan peserta didik dalam umur siap sekolah dan mempunyai kebutuhan untuk mengikuti kegiatan pendidikan . Selanjutnya, proses dalam sistem pendidikan nasional meliputi komponen-komponen sebagai berikut:

  1. Tujuan pendidikan, yaitu sesuatu hal yang diharapkan dapat dicapai sepanjang proses. Tujuan pada akhir keseluruhan proses adalah tujuan umum atau tujuan nasional pendidikan. Sedangkan untuk sampai pada akhir proses, terdapat sederatan tujuan yang disebut tujuan khusus. Tujuan-tujuan ini berfungsi sebagai pengarah operasional kegiatan pendidikan.
  2. Organisasi Pendidikan, yaitu keseluruhan tatanan hubungan antar bagian-bagian dan antar unsur-unsur dalam sebuah kesatuan sistem pendidikan nasional.
  3. Masa Pendidikan, yaitu jangka waktu kelangsungan seluruh kegiatan di sebuah satuan pendidikan.
  4. Prasarana Pendidikan, yaitu segala hal yang merupakan penunjang terselenggaranya proses pendidikan dalam sistem pendidikan nasional.
  5. Sarana Pendidikan, yaitu segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pendidikan.
  6. Isi Pendidikan, yaitu semua hal atau pengalaman yang perlu dipelajari oleh peserta didik.
  7. Pendidik dan Tenaga Kependidikan, yaitu pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan dan pelaksanaan pendidikan (guru, pustakawan, teknolog pendidikan, dan sebagainya).
  8. Peserta didik, yaitu semua anak, remaja, dan orang dewasa yang terlibat dalam proses pendidikan.

Kemudian, hasil dari proses pendidikan dapat digambarkan sebagai sejumlah orang-orang terdidik dalam kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor yang secara optimal dapat dicapai oleh setiap orang. Pada akhirnya setiap individu mimpi terus belajar dalam rangka meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor secara maksimal serta menjadi anggota masyarakat yang baik seperti dalam berperan sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat, dan warga negara, dan menjadi hamba Tuhan yang beriman dan bertaqwa. Menurut Peter Senge, penyelenggaraan suatu sistem pendidikan di sebuah negara dapat digambarkan ke dalam sebuah nested system yang sistematis dan sistemik. Sistem instruksional merupakan dasar yang sangat penting dari semua komponen sistem pendidikan dan berdampak pada sistem keseluruhan. Hal ini dikarenakan, sistem instruksional atau level ruang kelas menjadi tempat pertemuan utama sebuah sistem dengan komponen ”masukan” yaitu peserta didik. Level inilah yang akan menentukan apakah tujuan pendidikan (umum dan khusus) dapat dicapai secara efektif dan efisien. Nested system di atas dapat diperjelas dengan peran masing-masing sistem dalam mewujudkan tujuan pendidikan

National System

Menentukan peraturan, regulasi, standar dan pembiayaan

District System

Implementasi kebijakan, baik berupa personel, kurikulum, fasilitas, dan biaya

School System

Bertanggung jawab mengorganisasikan, mengkoordinasikan, mendukung dan melakukan supervisi terhadap implementasi kurikulum dan kegiatan instruksional

Instructional System

Bertanggung jawab atas tercapainya kompetensi (pengalaman belajar) dan mengembangkan potensi-potensi peserta didik.

 

Sedangkan global system menjadi bagian yang tidak berdampak langsung terhadap sistem pendidikan nasional, namun keberadaannya secara perlahan-lahan mampu memberikan pengaruh yang besar terhadap sistem pendidikan nasional. Sebagai contoh, pilar-pilar pendidikan yang dirumuskan oleh UNESCO (Learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together), lahirnya SEAMOLEC atau jaringan sistem belajar jarak jauh mampu memberikan perubahan terhadap sistem pendidikan nasional dan masih banyak lagi perkembangan global yang harus dipertimbangkan secara kritis dan tepat untuk kepentingan sistem pendidikan nasional. (http://library.gunadarma.ac.id/files/disk1/2/jbptgunadarma-gdl-sl-2004-basukirach-93-bab2.pdf ).

Konsep dasar sistem secara umum yaitu ;

  1. Komponen-komponen sistem saling berhubungan satu sama.
  2. Suatu keseluruhan tanpa memisahkan komponen pembentukannya.
  3. Bersama-sama dalam mencapai tujuan.
  4. Memiliki input dan output.
  5. Terdapat proses yang merubah input menjadi output.
  6. Terdapat aturan
  7. Terdapat subsistem yang lebih kecil.
  8. Terdapat deferensiasi antar subsistem.
  9. Terdapat tujuan yang sama meskipun mulainya berbeda

 

 

Pendekatan  Sistem

Pendekatan sistem merupakan suatu metode ilmiah, dimana proses pencapaian hasilatau tujuan logis dari pemecahan masalah dilakukan dengan cara efektif dan efisien. Menurut Reigeluth, pendekatan sistem adalah transaksi dari suatu urutan logis dari operasi untuk tujuan mengubah satu atau lebih faktor dalam suatu sistem. Penerapan pendekatan sistem ini dapat membantu mencapai suatu efek sinergitis dimana tindakan-tindakan berbagai bagian yang berbeda dari sistem tersebut bila dipersatukan akan memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan terpisah bagian demi bagian. Jadi, pendekatan sistem merupakan aplikasi pandangan sistem (system view or system thinking) dalam upaya memahami sesuatu atau untuk memecahkan suatu permasalahan secara lebih efektif dan efisien. Keuntungan yang diperoleh apabila pendekatan sistem ini dilaksanakan antara lain

  1. Jenis dan jumlah masukan dapat diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan sehingga penghamburan sumber, tata cara dan kesanggupan yang sifatnya terbatas akan dapat dihindari.
  2. Proses yang dilaksanakan dapat diarahkan untuk mencapai keluaran sehingga dapat dihindari pelaksanaan kegiatan yang tidak diperlukan.
  3. Keluaran yang dihasilkan dapat lebih optimal serta dapat diukur secara lebih cepat dan objektif.
  4. Umpan balik dapat diperoleh pada setiap tahap pelaksanaan program. Jadi pelbagai kemungkinan yang tersedia dapat diperhitungkan, sehingga tidak ada yang luput dari perhatian. Sekalipun demikian bukan berarti pendekatan sistem tidak mempunyai kelemahan, salah satu kelemahan yang penting adalah dapat terjebak dalam perhitungan yang terlalu rinci, sehingga menyulitkan pengambilan keputusan dan dengan demikian masalah yang dihadapi tidak akan dapat diselesaikan.

Pendekatan sistem adalah satu kesatuan dalam:

(1) a way of thinking (filsafat sistem), yaitu sebuah paradigma baru dari persepsi dan penjelasan, yang diwujudkan dalam gabungan, berpikir holistik, tujuan-mencari, hubungan sebab akibat, dan proses-penyelidikan yang fokus dengan titik sasaran dapat menggambarkan suatu rancang bangun atau unsur pendekatan sistem yang akan bermanfaat dan mudah diaplikasikan pada tugas-tugas manajerial dalam konteks merumuskan strategi.

(2) a method or technique of analysis (analisis sistem), yaitu pengamatan dan pemeriksaan fenomena yang berhubungan untuk tujuan memahami cara berinteraksi dari beberapa faktor dan mempengaruhi kinerja sebuah sistem dalam periode waktu yang lama (Reigeluth). Analisis sistem menekankan pada metode berfikir dan bekerja mengenai bagaimana menggunakan sumber-sumber yang tersedia secara optimal atau pendekatan yang bermanfaat pada proses pengambilan keputusan baik yang dilakukan pada tingkat manajerial maupun operasional.

(3) a managerial style (manajemen sistem), yaitu menekankan pada metode berfikir dan bekerja dengan titik sasaran pada upaya pencarian manfaat. Manajemen sistem menggunakan metode sintesis (memadukan semua unsur dalam satu kesatuan), untuk mengintegrasikan operasi kerja melalui perencanaan operasional sehingga jaringan hubungan antar komponen menjadi jelas atau pendekatan yang berguna dalam pengelolaan organisasi-organisasi besar terutama dalam pengelolaan fungsi, proyek, atau program-program.

Menurut Banathy, 1991 dalam  (Miarso, 2012) bukan hanya doing more of the same ataupun doing it better of the same melainkan doing it diffrently untuk menjamin hasil yang diharapkan. Pendekatan sistem harus memenuhi persyaratan,): Isomeristik (menggabungkan hal-hal yang sesuai dengan kajian bidang keilmuan) , Sistematik (berurutan, terarah) Sinergistik(menjamin adanya nilai tambah diseluruh aspek kegiatan) dan Sistemik (kajian yang menyeluruh).

Tata kerja pendekatan sistem menelaah masalah-masalah pendidikan dari berbagai sudut pandang hingga menghasilkan beberapa alternatif. Pendekatan sistem juga memadukan pola berpikir penyelesaian masalah dengan segi efisiensi. (Prawiradilaga, 2012). Sedangkan cara berpikir yang selalu mengedepankan sistem, disebut pola pikir sistemik. Dalam buku Menyemai Benih Teknologi Pendidikan oleh Prof. Dr. Yusufhadi Miarso,  (Miarso, 2012) komponen sistem (dalam kaitannya dengan teknologi pendidikan) terdiri dari komponen fungsional dan komponen proses (guru, media, sarana, cara belajar). Konsep dasar pendekatan sistem ditinjau dari pendapat menurut AECT yaitu merupakan suatu proses pencapaian hasil atau tujuan logis dari pemecahan masalah dengan cara efektif dan efisien, dan dianggap sebagai suatu metode ilmiah. Teknologi Pendidikan juga merupakan sebuah sistem yang cukup kompleks, dalam memandang suatu masalah pembelajaran, bidang Teknologi Pendidikan melakukan pendekatan sistem dengan menggunakan konsep ADDIE atau ASSURE. Dimana konsep tersebut ditujukkan untuk menyelesaikan suatu masalah dilihat dari segi efisiensi dan efektifitasnya.

Pendidikan dapat dilihat dalam dua sisi yaitu: (1) pendidikan sebagai praktik dan (2) pendidikan sebagai teori. Pendidikan sebagai praktik yakni seperangkat kegiatan atau aktivitas yang dapat diamati dan disadari dengan tujuan untuk membantu peserta didik agar memperoleh perubahan perilaku. Sementara pendidikan sebagai teori yaitu seperangkat pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang berfungsi untuk menjelaskan, menggambarkan, meramalkan dan mengontrol berbagai gejala dan peristiwa pendidikan, baik yang bersumber dari pengalaman-pengalaman pendidikan (empiris) maupun hasil perenungan-perenungan yang mendalam untuk melihat makna pendidikan dalam konteks yang lebih luas. Pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya: (1) pendekatan sains; (2) pendekatan filosofi; dan (3) pendekatan religi. (Sadulloh, 1994)

Pendekatan Sains

Pendekatan sains yaitu suatu pengkajian pendidikan untuk menelaah dan dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu sebagai dasarnya,  menggunakan prinsip-prinsip dan metode kerja ilmiah yang ketat, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif sehingga ilmu pendidikan dapat diiris-iris menjadi bagian-bagian yang lebih detail dan mendalam. Melalui pendekatan sains ini kemudian dihasilkan sains pendidikan atau ilmu pendidikan, dengan berbagai cabangnya, seperti: (1) sosiologi pendidikan; (2) psikologi pendidikan; (3) administrasi atau manajemen pendidikan; (4) teknologi pendidikan; (5) evaluasi pendidikan; (6) bimbingan dan konseling,.

2. Pendekatan Filosofi

Pendekatan filosofi yaitu suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains. Cara kerja pendekatan filsafat dalam pendidikan dilakukan melalui metode berfikir yang radikal, sistematis dan menyeluruh tentang pendidikan, yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga model: (1) model filsafat spekulatif; (2) model filsafat deskriptif; (3) model filsafat analitik.

3. Pendekatan Religi

Pendekatan religi yaitu suatu pendekatan untuk menyusun teori-teori pendidikan dengan bersumber dan berlandaskan pada ajaran agama, berisikan keyakinan dan nilai-nilai tentang kehidupan yang dapat dijadikan sebagai sumber untuk menentukan tujuan, metode bahkan sampai dengan jenis-jenis pendidikan. Cara kerja pendekatan religi titik tolaknya adalah keyakinan (keimanan),  menuntut orang meyakini dulu terhadap segala sesuatu yang diajarkan dalam agama, baru kemudian mengerti. Terkait dengan teori pendidikan Islam, (Tafsir, 1992)dalam bukunya “ Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam” mengemukakan dasar ilmu pendidikan Islam yaitu Al-Quran, Hadis dan Akal. Al-Quran diletakkan sebagai dasar pertama dan Hadis Rasulullah SAW sebagai dasar kedua. Sementara akal digunakan untuk membuat aturan dan teknis yang tidak boleh bertentangan dengan kedua sumber utamanya (Al-Qur’an dan Hadis), yang memang telah terjamin kebenarannya.

Menurut Banathy, teori sistem adalah suatu ekspresi yang terorganisir dari rangkaian berbagai konsep dan prinsip yang saling terkait yang berlaku untuk semua sistem. Terdapat dua kelompok pendekatan dalam mendefinisikan sebuah sistem yaitu:

  1. Pendekatan Prosedur. Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada prosedur mendefinisikan sistem sebagai suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu.
  2. Pendekatan Komponen atau Elemen. Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada komponen atau elemen sehingga sistem sebagai sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan.

Banathy juga menungkapkan untuk mencapai hasil yang diharapkan bukan hnaya ‘doing more of the same’ ataupun doing it better of the same’ melainkan doing it differently (Banathy, 1991) dalam Miarso(2012 : 150) Pendekatan itu memenuhi tiga persyaratan :

  1. Pendekatan Isomeristik, yaitu menggabungkan berbagai kajian bidang keilmuan (psikologi, komunikasi, ekonomi, manajemen, rekayasa teknik, dsb) ke dalam suatu kebutuhan tersendiri.
  2. Pendekatan sistematik, yaitu dengan cara yang berurutan dan terarah dalam usaha memecahkan persoalan.
  3. Pendekatan sinergetik, yaitu yang menjamin adanya nilai tambah dari keseluruhan kegiatan dibandingkan dengan bila kegiatan itu dijalankan sendiri-sendiri
  4. Pendekatan sistemik, yaitu pengkajian secara menyeluruh.

Analisis Sistem Teknologi Pendidikan Dalam Teknologi Pembelajaran

Analisis sistematik pertama dalam sistem pendidikan Indonesia telah dilakukan pada tahun 1968 melalui proyek The National Assesment of Education. Rekomendasi yang dihasilkan adalah pada aspek kualitatif dari pendidikan dasar, di antaranya merevisi kurikulum yang ada, meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan dalam jenjang  pendidikan dasar, memanfaatkan radio pendidikan, menyediakan buku teks, dan bahan belajar untuk guru setelah dilakukan penataran dan pelatihan serta peningkatan supervisi sekolah. Namun, perubahan yang telah dilakukan belum mencakup keseluruhan aspek atau belum menggunakan paradigma perubahan sistemik, seperti yang dijelaskan oleh Reigeluth bahwa sebuah perubahan sistemik mencakup pengalaman belajar, sistem instruksional yang menerapkan pengalaman belajar tersebut, sistem administratif yang mendukung sistem instruksional dan sistem pemerintahan yang mengatur keseluruhan sistem pendidikan. Selain hal di atas, telah banyak perubahan-perubahan yang terjadi di dalam sistem pendidikan nasional, yaitu mulai dipersiapkan tenaga-tenaga terlatih selain guru dan sumber-sumber belajar lainnya untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan nasional. Penggunaan media komunikasi seperti radio di atas merupakan awal dari penerapan teknologi pembelajaran secara formal.  Kemudian teknologi sebagai alat (tools) berkembang sebagai proses dan struktur. Jacques Ellul (1964) dalam Miarso (2012 : 158) mengartikan teknologi sebagai peranti, teknik, dan keseluruhan struktur dalam masyarakat, sehingga teknologi pembelajaran menjadi bagian dari pengertian teknologi secara luas. Teknologi sebagai proses memberikan pengertian bahwa pendidikan juga dapat diartikan sebagai satu teknologi, karena pendidikan merupakan proses untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang terdidik dan berkualitas. Pengertian teknologi sebagai proses menghasilkan berbagai pandangan (Miarso, 2012 : 159) yaitu: 1) proses tersebut harus rasional dan efisien, 2) harus menyistem, karena dalam sistem segala sesuatu akan mempunyai dampak dan dipengaruhi oleh hal lain dalam lingkungan, 3) harus bersistem, yaitu mempertimbangkan segala variabel yang mungkin berpengaruh dalam menentukan prosedur tindakan agar proses itu efektif, efisien dan serasi, 4) melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan, 5) mengarah pada pemecahan masalah bersama, 6) memadukan berbagai prinsip, konsep dan gagasan, dan 7) mempertimbangkan kondisi lingkungan (lokal, nasional maupun global) untuk mencapai tujuan. Teknologi juga merupakan suatu sistem dengan memiliki struktur tertentu yang dapat meliputi hal-hal sebagai berikut: 1) adanya organisasi dengan hierarki tertentu, 2) adanya deferensiasi peranan para pelakunya yang tidak bebas dari nilai sosial yang berlaku, 3) tumbuh profesi baru yang masing-masing memerlukan pendidikan khusus, serta dalam melaksanakan tugas berpegang pada norma dan etika profesi, 4) adanya pengintegrasian berbagai komponen fisik dan nonfisik ke dalam suatu sistem, 5) keberadaannya sebagai subsistem dari keseluruhan sistem teknologi dan sosial-ekonomi, dan 6) adanya kerjasama dan saling ketergantungan untuk mencapai tujuan bersama. Beberapa bentuk penerapan teknologi pembelajaran secara menyeluruh yaitu meliputi seluruh komponen sebagai berikut: (Miarso, 2012 : 174)

  1. Proyek percontohan sistem PAMONG (Pendidikan Anak oleh Masyarakat, Orang tua, dan Guru) di berbagai daerah di Indonesia.
  2. Pemasyarakatan P4 melalui permainan yang diujicobakan di Kabupaten Batu, Malang.
  3. Proyek Pendidikan melalui Satelit (Rural Satellite Project) di perguruan tinggi wilayah Indonesia bagian Timur (BKSPT INTIM).
  4. Program pendidikan karakter melalui serial televisi ACI (Aku Cinta Indonesia) atau serial televisi (pendidikan).
  5. Program KEJAR Paket A dan B.
  6. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
  7. SLTP Terbuka.
  8. Sistem Belajar Jarak Jauh yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan.
  9. Jaringan sistem belajar jarak jauh (Indonesian Distance Learning Network) dan SEMOLEC (SEAMEO Open Learning Center).
  10. Dan lain sebagainya.

Saat ini perkembangan yang terjadi dalam berbagai aspek kehidupan terutama ilmu pengetahuan dan teknologi mempengaruhi pengelolaan dan penyelenggaraan system pendidikan nasional. Hal ini dapat dirasakan dari lahirnya konsep pendidikan terbuka dan jarak jauh sebagai perwujudan dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan tujuan terhadap peningkatan mutu dan akses pemerataan pendidikan. Namun pemanfaatan teknologi seperti teknologi informasi dan komunikasi ini tidak merubah atau merevolusi system pendidikan yang sudah ada, tetapi melengkapi teknologi tradisional yang selama ini telah berjalan dengan baik.

Pemanfaatan berbagai teknologi ini tidak hanya berdampak pada proses pembelajaran atau peserta didik saja namun diharapkan pula mampu menyentuh berbagai komponen sistem pendidikan, sehingga peran teknologi untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna (nilai tambah) dapat terwujud dalam sistem pendidikan nasional. Oleh karena itu, menurut Yusufhadi Miarso (2012 :160-161)  dibutuhkan beberapa saran dalam melakukan perubahan yang sistemik dan sistematis dalam system pendidikan nasional. 1) Kebijakan dan tindakan pembangunan pendidikan memberikan perhatian lebih besar lagi terhadap teknologi pembelajaran, dan dibutuhkan pengkajian terpadu, 2) Struktur organisasi pendidikan diperbarui sehingga mencerminkan model sinergistik (sistem pendidikan terbuka dan belajar mandiri), 3) Penggunaan teknologi pembelajaran tidak mereformasi total sistem konvensional yang sudah ada, 4) Pemanfaatan teknologi pembelajaran dipriotaskan pada  pelayanan pendidikan yang belum dimungkinkan pelaksanaannya atau kurang menguntungkan secara konvensional, termasuk pengembangan pendidikan alternatif, 5) Hasil-hasil dan pelajaran yang diperoleh dengan pengembangan subsistem alternatif ini kemudian dicangkok kepada subsistem yang konvensional, hingga terjadi penyatuan secara bertahap, 6) Teknologi pembelajaran perlu dikembangkan sebagai wahana untuk belajar berkelanjutan, sebagai salah satu bentuk pengewajantahan prinsip pendidikan seumur hidup, 7) Diberikan perhatian besar untuk pendidikan dan peranan tenaga professional untuk mengembangkan dan memanfaatkan teknologi pembelajaran dalam pembangunan pendidikan, 8) Dilakukan pendekatan dengan negara sahabat untuk kemungkinan penerapan teknologi pembelajaran dalam bentuk “telematika” dan 9) Mulai sekarang dapat disiapkan tatanan mengenai “telematika” serta pemanfaatannya, untuk mencegah penyalahgunaan dan dampak negatif lainnya . Aplikasi Proses pembelajaran yang baik terlihat pada gambar

 

 

 

 

KESIMPULAN

  1. Landasan teori sistem merupakan cara-cara berfikir dan bekerja dengan menggunakan konsep-konsep teori sistem yang relevan , efektif dan efisien dalam memecahkan masalah.
  2. Pendekatan sistem telah menjadi suatu metode ilmiah karena merupakan proses pencapaian hasil atau tujuan logis dari pemecahan masalah dengan cara efektif dan efisien.
  3. Peran Teknologi Pembelajaran dalam perubahan sistemik dalam sistem pendidikan nasional mampu meningkatkan nilai tambah terutama dalam peningkatan mutu pendidikan dan pemerataan akses pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Balai

            Pustaka.Edisi Ketiga.

Gunadarma. (2004). (http://library.gunadarma.ac.id/files/disk1/2/jbptgunadarma-

            gdl-sl-2004-basukirach-93-bab2.pdf ).

Hasbullah. (2012). dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press.

Miarso, Y. P. (2012). Menyebar Benih Teknologi Pendidikan,. Jakarta: PT.

            Kencana Prenada Media.

Prawiradilaga, D. S. (2012). Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta: kencana

            Prenada

Purwanto. (2007). Jejak Langkah dan Perkembangan Teknologi Pendidikan di

            Indonesia. Jakarta: Pustekkom.

Sadulloh, U. (1994). Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: P.T. Media Iptek.

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan kuantitatif,

            Kualitatif, dan R & D. .Bandung: Penerbit Alfabeta Bandung.

Cetakan Ke-12.

Surajiyo, D. (2012). Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta:

            Bumi Aksara.

Tafsir, A. (1992). Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam. Bandung:

Rosda Karya.

 

 

 

 

 

 

Hello world!

9 Dec

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.